Coreta Rasa! Blog yang berceloteh tentang opini pribadi, bukan pandangan umum. Bebas, lepas, tanpa tujuan.

Maret 31, 2023

Bicara Saja Semaumu

by , in

Dunia kita ini luar biasa, banyak anugrah yang bisa disyukuri ketika mampu melihat lebih jernih. Kadang pandangan bisa kabur kalau hanya melihat sampul kehidupan, tanpa menelisik lebih dalam, kita berekspektasi menurut persepsi sepihak. Padahal perlu kesesuaian energi satu sama lain, toh setiap jiwa punya perjalanan dan PR nya sendiri.


Berkutat pada satu sudut pandang hanya akan membuat kita menjadi sosok individual yang menyebalkan. Lupa kalau kita ini satu sama terhubung. Padahal bagaimana struggle nya kita, maka orang-orang selain kita pun memiliki permasalahannya sendiri. pergulatan batin, kesenjangan ketenangan dan gap antara kebaikan yang harus didekatkan ke nurani, dengan fakta keterhubungan yang menguras energi. Melelahkan bukan?


Mmmmm.. Tergantung!


Oya, tentunya kicau individual selalu berdasar opini pribadi, pandangan kita bergantung pada pola hidup dan pengalaman. Tapi apakah argumen kita sudah pasti benar? Karena kecocokan sangat berpengaruh juga pada kondisi lawan bicara.


Apakah ketika kita mengeluh karena merasa sedang dalam kesulitan, maka orang yang terlihat senang sudah pasti bahagia? Sudah pasti ga punya masalah hidup?


Bisa jadi tidak sedangkal itu kenyataannya. Ia terlihat baik-baik saja karena mampu berdamai pada situasi, paham hukum semesta dan tetap berusaha menjaga frekuensinya.


Dengar ini ... tidak ada gunanya kamu mengeluh! Apa kau pikir, kau bisa mengandalkan pihak lain selain dirimu? Pada satu fase kau akan mengerti, bahwa tidak ada yang lebih indah di dunia ini selain mampu melepaskan jubah dan topengmu.


Jangan bicara silaturahmi ketika hanya datang saat perlu saja. Silaturahmi itu jalinan kebersamaan. Bukan semata kepentinganmu saja, tapi juga kebutuhan orang lain. Kebutuhan untuk diperlakukan sebagai bagian, bukan tumpahan. Kebutuhan untuk dirangkul bukan hantaman.


Pahami peranmu sobat! Bukan tempatku merangkul orang yang ga sadar perannya, bukan wilayahku untuk menopang orang yang bahkan menolong dirinya saja tidak mau. Energiku tak sekuat itu.


***


Hey! Tampaknya aku sedang marah?!

Tidak! Ini hanyalah pelepasan yang dikemas menjadi petuah. Karena keluhan itu racun! Hanya kita yang mampu menolong diri kita sendiri, setelah kuat, kita bisa menerangi sekitar. Jika kamu tetap berada di ruang gelap, sinar kehidupan tidak akan terangkul. Area suram pun hanya memberi sinyal kebingungan, hingga semesta pun merasa begutu ambigu ketika menangkap pesanmu.
 

Jangan lemah! Terlebih kalau kamu laki-laki dan usia tak lagi ringan. Jangan marah kalau tidak ada yang mengerti kamu. Jangan kesal ketika orang lain tidak mau membantu (siapa tau bukan tidak mau, tapi tidak mampu atau tidak paham)


Karena diri kita ini tanggung jawab kita. Kalau kamu tetap berada di jurang kesulitan dan tidak ada yang menolong ya jangan marah. Hak orang lain untuk menentukan sikap terbaik di hidupnya!


Jadi bagaimana?
 

Marah lah sama diri sendiri! Kenapa kamu ga keluar dari jeruji pikiran? Memangnya kondisi kita karena keadaan eksternal? Bisa sih,tapi prosentasenya paling 20℅. Selebihnya tergantung kita, bagaimana pola pikir, perasaan dan cara hidup.

Jadi Marah lah sama diri sendiri karena kamu lemah. Marah sama diri sendiri karena kamu lebih senang menggantungkan harapan pada hal yang semu!

Hey, hidup ini keras! Jangan Aleman! 
Maret 31, 2023

Lambat

by , in

Lihatlah, mereka terus bergerak, melakukan perubahan di lima dimensi secara kompak. Mereka terasah dan pengetahuannya semakin tinggi, sedang aku masih sibuk melawan black*** dan shadow.


Aku asing, dan merasa aneh dengan semuanya. Menampik jalan baruku setelah awaken. Aku berteriak dan menangis, "ini bukan aku!"


Ya, fisik yang selalu berdampingan dengan ego akan menolak kejanggalan ini. Tentu saja tubuhku ingin segala hal yang terlihat keren, mewah, indah, supaya sekitar berdecak kagum.


Tapi jiwa berkata lain, ia ingin bertumbuh dan bergerak bebas. Ingin PR ku di kehidupan sekarang tuntas, agar tidak kembali reinkarnasi dengan siklus yang sama.


Bumi tersayang ini sekolah kehidupan. Peranku di sini untuk menuntaskan yang belum selesai. Mendapat limpahan karma baik sekaligus membayar karma. Jika nanti aku sudah berada di tempatku, berarti aku sedang membayar karma, bukan karena hebatku.


Kita balik lagi ke atas ceritanya..


Aku sempat mempertanyakan dengan keras, mengapa "manusia-manusia itu" segitu kejamnya? begitu jahat dan diluar nalar. Ada apa denganku? Aku tak mengusik mereka? Dan jawaban yang kuterima adalah karma.


Karma dari mana? Dari kehidupan saat ini kah, mungkin saat kukecil nan unyu-unyu? Atau ini karma dari kehidupan lalu? Karma leluhur yang belum selesai sesuai catatan DNA ku? Atau karma apa?


Karma apa?


Otakukosong, bukan berada di titik nol. Aku masih dengan semua sisi gelapku. Menyendiri dan merenungi banyak hal.


Aku tak tertarik dengan manusia lain tapi nyaman dengan alam. Hingga di rumah ini hidup bersama gerombolan kupu-kupu!


... 


Hei, jangan teruskan! Dengar dulu reaksi tubuhmu. Apa tulisan ini boleh diteruskan?