Coreta Rasa! Blog yang berceloteh tentang opini pribadi, bukan pandangan umum. Bebas, lepas, tanpa tujuan.

Spontanitas Kebodohan Berulang Menurut Teori Dunning Kruger




Merasa pintar, bodoh saja tak punya!
Judul buku ini sangat menggelitik dan cukup membuat saya penasaran. Kira-kira yang dipunya apa ya, jika bodoh saja tak ada? Apakah benar-benar kosong dan sedangkal itu? Saya jadi membayangkan yang ekstrim-ekstrim. Dan berangkat dari kalimat tersebut, timbullah pertanyaan lanjutan di benak saya, kira-kira apa yang membuat orang bodoh merasa pintar, ya?



Benar-benar memprihatinkan! Terlebih di media sosial yang menjadi kongkow placenya segala usia. Rasanya banyak sekali hal yang menyebar dengan cepat. Tak peduli nyata ataupun hoax. Masyarakat dengan sukarela memviralkan berita yang belum teruji kebenarannya. Apa lagi disertai hastag yang mengarah bullying, ataupun komentar dangkal yang terkesan ellit.


Sepertinya dahulu malah lebih damai, ya. Hanya ada berita sebagai portal resmi yang akurat, ataupun acara gosip di televisi yang tujuannya menghibur. Ya, media televisi merupakan wujud komunikasi satu arah sehingga reaksi dan penyebaran isu tidak berjalan cepat.


Yang membuat saya tidak habis pikir adalah, ketika orang-orang yang pengetahuannya terbatas malah berbicara lantang, sedangkan yang berilmu cenderung mengerem kata-katanya.


Internet sebagai sumber informasi merupakan paket komplit yang menyajikan segala kebutuhan akan pengetahuan. Perkembangan ini sebenarnya sangat-sangat baik. Tapi tetap saja, kan, hidup ini seperti pisau bermata dua. Di mana ada kebaikan, akan ada kejahatan yang membayangi.


Sungguh memprihatinkan di saat buku-buku pelajaran anak-anak sekolah, ada yang begitu ngaco dan tidak berdasar fakta. Banyak juga ditemui soal yang tidak ada jawabannya, ataupun yang tingkat kerumitannya tidak sesuai usia. Apa lagi, di sejumlah freelancer agent sering kali ada lowongan untuk menuliskan buku-buku sekolah, tanpa diketahui dengan pasti kredibilitas penulisnya dalam dunia pendidikan. Hasilnya, buku-buku tersebut kebanyakan berisi informasi dari google. Ya memang tidak salah sih, tapi bukankah akan jauh lebih baik lagi, jika yang menulis benar-benar orang yang berkompeten dibidangnya? Yaitu orang-orang yang menulis atas dasar berbagi, dan bukan karena pundi-pundi rupiah semata.



Dan pada akhirnya, seluruh pertanyaan di benak tersebut terjawab. Lagi-lagi dunia psikologi memuaskan hasrat saya.




Dalam penelitian yang berjudul



Unskilled and Unaware of it..

How difficulties in recognizing one's own incompetence lead to inflated self assesments





sejolo (bukan sejoli *versi saya, karena sesama jenis) David Dunning dan Justin Kruger menemukan fakta, bahwa



Orang-orang yang tidak kompeten menemukan bias kognitif sehingga tidak bisa menilai secara akurat, sampai sejauh mana kemampuan diri. Penelitian yang dilakukan di tahun 1999 ini pada akhirnya mendapat award ig Nobel Prize di bidang psikologi pada 2000 lalu, dan fenomena ini dikenal sebagai Dunning-Kreger effect.


  • Nah contoh Dunning-Kreger efect ini bisa kita temukan pada ajang pencarian bakat. Pada reality show, seringkali kita temukan betapa hancurnya suara seseorang, tapi ia berani bernyanyi dengan lantang di depan publik, tersorot kamera yang berpotensi ditonton oleh masyarakat seindonesia. Sayangnya adegan marah-marah ketika tidak lolos audisi pun ikut menyesaki penglihatan kita.
  • Contoh lainnya di saat oknum tertentu memaki kinerja pemerintahan. Padahal, mereka ini tidak tahu seberapa besar upaya yang dilakukan orang-orang atas tersebut. Padahal belum tentu si pemaki mampu melakoni tugas dengan baik jika ia yang diberi amanah.
  • Dan pada contoh ketiga, di saat Timnas Indonesia yang gagal membawa medali untuk negara Followers fanatiknya secara spontan menggoblok-gobloki atlit tersebut. Saya jadi berpikir, apakah beliau ini mampu mengalahkan pesaing, jika ia yang berada di posisi atlit tersebut?



Nah Frens, sangat disayangkan ya, kejadian-kejadian tersebut, dan hal ini cukup menggambarkan teori Dunning-Kruger effect, bahwa apa yang terjadi di luar kontrol, karena minimnya kesadaran diri. Akhirnya yang timbul malah beragam sikap negatif. Seperti sok tahu, sok pintar, dan sok mengerti.


Penyebab orang-orang ini seringkali merasa pintar bermacam-macam. Selain karena minimnya kesadaran diri, bisa jadi karena mereka ingin menunjukkan keakuannya pada orang lain. Sebab, orang-orang seperti ini cenderung membuat orang hilang feeling sehingga minim pujian. Pada akhirnya mereka menghalalkan segala cara demi sebuah label "pujian" tersebut. Di sisi lain, mereka juga malu bertanya karena tidak mau terlihat bodoh!



Cara menyiasatinya tentu dengan mengikuti sebuah pelatihan. Dan saya katakan bahwa pelatihan adalah tempat terbaik untuk mengenal kemampuan diri. Proses belajar dan tugas demi tugas, akan menyadarkan seseorang bahwa ada banyak sekali hal yang tidak diketahuinya. Bahwa ilmunya belum seberapa, dan ia masih perlu banyak belajar untuk mengasah skill dan intelektualnya.


So jangan cepat puas, teruslah belajar, lihat sekeliling, dan rem segala kata. Orang cerdas itu diakui, bukan mengakui. Biarkan proses pembelajaran yang akan mengabarkan pada dunia bahwa kamu kerren!



Semoga di lain kesempatan ada banyak orang yang memahami bahwa menelaah setiap kejadian, dan melihatnya dari berbagai sudut pandang adalah cara terbaik. Dan diam sejenak, merupakan wujud nyata dari proses berpikir tersebut.

5 komentar:

  1. Pemikirannya bagus. Suka bacanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, terima kasih sudah berkunjung ya mba Fitrah_Rahman :)

      Hapus
  2. aku juga pernah nulis ttg kreger dunning effect mba didunia kerja untuk karyawan yang sudah tak mampu tak merasa pula ini yg bikin emosi 😂

    BalasHapus
  3. iya yaa, bener bangettt mba helva. cape hati

    semoga enggak ketemu lagi ya dengan yang beginian.. hehe

    BalasHapus

Hai, terima kasih atas kunjungannya. Tinggalkan jejak ya :)