Coreta Rasa! Blog yang berceloteh tentang opini pribadi, bukan pandangan umum. Bebas, lepas, tanpa tujuan.

Gamang

Ini bukan lagi tentang dia yang telah pergi, tapi keberanian untuk menatap kelemahan dan mengakui kesakitan ku, lalu melangkah dengan berani meninggalkan yang di belakang

Dulu kami berempat. Sekarang bertiga. Saya tidak bisa terus merasa pincang dan hidup di masa lalu. 

Ini perihal diriku yang kosong, namun perlu menguatkan kaki untuk tegar menopang dua jiwa lainnya.

Tidak benar jika saya terus berkutat pada ketakutan. Tentang pertanda yang membuatku berpikir bagaimana, bagaimana dan bagaimana.

Bagaimana jika waktuku juga tiba? Dan kedua anak-anakku menjalani sisa hidupnya dengan goyah? 

Jika dibalik, bagaimana jika malah salah satu dari mereka yang pergi? Lalu aku menyusul pula. Bagaimana dengan yang tinggal? Sebatang kara itu pertanda apa? Hidupmu ternyata lebih mencengangkan dari hidupku, Nak!

Lalu bagaimana jika dua-duanya yang pergi dan aku tinggal seorang diri? Pada fase ini aku mungkin malah akan lebih berlega hati, karena tidak meninggalkan napas jiwaku, salah satu dari mereka seorang diri.

Pada akhirnya aku pun menuju satu titik. Walau bagaimana pun ketakutan harus dilepas dan kesiapan masing-masing dari kami perlu diperbaharui.

Di waktu berikutnya, aku berpikir..

Bagaimana ini? Syair sekalimat begitu membongkar pikirku. Bahwa tak ada yang pasti di dunia ini. Jangankan memahami semesta, paham perjalanan diri saja, kita harus ekstra bijak.

Dan sang simbolis keesaan telah menentukan segalanya. Benarkah kehendak bebas itu ada?

Yang tak terbantahkan ketika bukan kematian diri yang menjelma, tapi jiwa-jiwa tertaut yang menemui takdirnya. Sakit sekali. Sanggupkah?

Jika dipikir tidak akan sanggup tapi ketika dijalani, bisa!

Ah bagaimana ini, lagi-lagi tentang kekalutanku, kembali bagaimana. Tunas jiwa pernah menanyakan dengan miris "kenapa papa pergi saat aku umur segini? Kenapa tidak saat seumur kakaknya?"

Luka. Anak itu terluka! Dan mungkin akan terluka lagi. Lagi dan lagi. Tapi, jika demikian adanya. Sudah dipastikan dia akan menjadi orang besar.

"Tidak ada kilau tanpa tempaan. Tidak akan tajam logam bila tak terasah batu."

Nak, rasanya, semakin tinggi kesadaran, semakin banyak PR mama di sisa hidup ini. Air mata yang luruh hanya mewakili ketiadaan daya sekejap mata. Karena mama tahu, tak bisa berlama lama lagi berkubang luka. Di jam berikutnya, mama harus mengambil alih kehidupan dan mengibarkan bendera perang sebagai simbol perjuangan.

Nak, mama tengah mempersiapkan jejak abadi. Sebagai pegangan langkahmu ke depan. Semoga ini bisa menjadi pedoman, sebuah pemikiran yang lahir dari keresahan.

25 April 2022
Aku yang sedang menyembuhkan luka
Kota ku, tempat mendiang mengangkat Puruk dari hidupku.

Tangerang, 22 : 35 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hai, terima kasih atas kunjungannya. Tinggalkan jejak ya :)