Hai! Ladies and Gentlement, kamu punya banyak saudara? Saya sih iyess! Nah jika kamu juga bernasib seperti saya, apakah hingga kini keharmonisan persaudaraanmu tetap terjaga? Jika iya, empat jempol deh buat kamu. Sebab, menjaga langgengnya hubungan baik dengan saudara, di saat sama-sama sudah memiliki pasangan enggak mudah lho. Karena kebiasaan bersaudara ini, sudah terjerat dengan pemikiran dan aturan-aturan dari pasangan. Iya apa iya? Finally saya mau bilang, beruntung banget jika Lad nd Gent, memiliki pendamping hidup yang pengertian.
Semasa kecil banyak kenangan yang dilalui bersama. Mulai dari pahit manisnya hubungan, hingga asam garamnya kehidupan. Meski sering bertengkar namun keakuran selalu terjalin setelahnya. Menangis dan tertawa bersama adalah wujud kasih sayang yang tak bisa dihindari. Namun seiring berjalannya waktu, kedewasaan seolah menjadi jarak. Entah karena sudah sama-sama memiliki pendamping hidup ataupun karena domisili yang berjauhan. Apa pun yang terjadi tetaplah jalin persaudaraan yang indah, karena kalian adalah bagian yang saling membutuhkan antara satu sama lainnya. Berikut ada beberapa tips untuk menjaga keharmonisan hubungan persaudaraan. Yuk, disimak.
1. Kita adalah satu
Jangan permasalahkan posisi dalam keluarga. Baik itu anak pertama, tengah, terakhir, lelaki, ataupun perempuan. Mengkotak-kotakkan status, hanya akan menjadi jurang pemisah antar keluarga. Biasanya anak pertama cenderung merasa lebih berhak. Lebih tahu segalanya dan ingin selalu dituakan. Meski tidak semua sih. Sementara anak bungsu selalu dianggap anak bawang. Tak punya hak bicara dan tak mengerti apa-apa. Sedangkan anak tengah, cenderung lebih dekat ke semua golongan dan lebih fleksibel dalam tugas-tugas dari orangtuanya.
Jika berbicara gender, si anak lelaki bisa dikelompokkan sebagai pribadi yang memiliki hak spesial. Perlakuan ini akan membuat Ia merasa berhak atas apa pun. Si anak lelaki yang bertanggung jawab tentu merupakan anugerah bagi keluarga besarnya. Namun jika anak lelaki tersebut tumbuh menjadi pribadi yang egois, akan menjadi petaka yang menyusahkan. Ia akan terus menuntut haknya sebagai anak lelaki meski tanggung jawabnya diabaikan.
Lain lagi dengan si perempuan. Jika terlalu dilindungi, Ia akan menjadi orang yang lemah, cenderung bergantung pada orangtuanya, tidak memiliki kepercayaan diri dan tak memiliki impian yang tinggi. Namun jika terlalu diberi kelonggaran, dikhawatirkan si anak perempuan malah salah pergaulan. Jadi ada baiknya jika semua anggota keluarga melunturkan ego dan statusnya terlebih dahulu. Duduklah sama rendah dan berdirilah dengan sama tinggi. Percayalah, kebijakan tidak akan pernah menjadi duri dalam daging. Justru kebijakan akan menghancurkan kerasnya prinsip yang salah.
2. Berbaurlah dengan hati
Generasi muda adalah penerus ajaran-ajaran orangtuanya. Maka sudah sepantasnya, kita menjaga hubungan baik dengan keluarga sampai kapan pun. Mulailah dengan hati yang bersih. Meski kita memiliki aliran darah, latar belakang, pola didik dan pendidikan yang sama, namun tidak menutup kemungkinan bahwa di hasil akhir, karakter akan berbeda. Salah satu yang mendasari hal ini adalah lingkup pergaulan.
So, jangan sampai penyakit hati merasuki, ya. Entah karena melihat adik atau kakak lebih sukses, kaya, populer ataupun lebih bahagia. Santai sajaaa! Ya nggak? Toh semua sudah memiliki porsinya masing-masing. Sebaiknya kembalilah ke kodrat. Kalian adalah satu. Seharusnya ikut berbahagia jika melihat saudara lebih maju. Karena hal-hal semacam ini merupakan sumber kebahagiaan Ayah dan Ibu, mengurangi beban batinnya, juga memerdekakan kita. Mengapa? Sebab, dengan demikian, tugas kita sebagai saudara akan lebih ringan. Kita tidak perlu membagi pengeluaran untuk membantu mereka keluar dari masalah-masalah yang dihadapi. Jadi ambillah sisi positif dari situasi yang mungkin saja menimbulkan ketidaknyamanan ini.
3. Dulu dan sekarang berbeda
Lain dulu lain sekarang. Ini sih kata pepatah. Tapi saya membenarkannya. Hubungan saat masih sama-sama kecil, dengan situasi di saat sudah sama-sama memiliki pendamping hidup, tentu berbeda. Jika saat masih kecil bisa berbagi makanan, tidur bersama, saling meledek, tukar pinjam barang, dan sebagainya, tentu akan berbeda situasinya dengan sekarang. Di mana kakak ataupun adik, telah memiliki orang lain. Ada pakem atau aturan yang harus dilihat lagi. Jika saudara kita perempuan, apalagi tidak bekerja dan sepenuhnya menggantungkan hidup pada suami, tentu ada hal yang harus disadari, bahwa kita tidak bisa seenaknya meminta barang atau uangnya begitu saja. Berbeda halnya seperti saat masih kecil dahulu.
Nah, Ia pasti memiliki pertimbangan yang jauh ke depan, karena tidak memiliki penghasilan dari tangannya sendiri. Ada nama baik dan martabat yang harus dijaganya. Pun demikian jika saudara kita laki-laki. Walaupun memiliki penghasilan sendiri, tetap saja, Ia punya tanggung jawab secara fisik dan mental untuk membiayai keluarga kecilnya. Tak bijak jika kita merongrongnya untuk memenuhi keinginan yang sebenarnya tidak terlalu mendesak. Inti dari poin ini sebenarnya sederhana, utamakanlah etika. Selami lagi posisi adik atau kakak. Bangunlah hubungan yang tulus dan hindari sifat komersil yang akan merugikannya.
4. Jadilah bagian yang menyenangkan
Pendidikan tinggi yang diperjuangkan orangtua tentu ada tujuannya. Yaitu agar kita menjadi orang sukses yang bermoral. Jadi aplikasikan dengan baik ilmu itu dalam kehidupan. Jadilah saudara yang beretika. Yaitu saudara yang mau menjalin hubungan baik selamanya.
Tanyakanlah kabarnya dengan konsisten. Bisa seminggu sekali, sebulan sekali, ataupun di hari-hari spesial seperti hari raya, ulang tahunnya, pergantian tahun, ataupun di hari jadi pernikahannya. Tanyakan pula kabar keponakan dan pasangan hidupnya. Siaplah mengucapkan rasa prihatin saat mereka tertimpa musibah. Jika pasangannya berlainan etnis atau kewarganegaraan, sebaiknya ucapkan juga di hari-hari penting saudara ipar tersebut. Jadi usahakan menjaga komunikasi yang baik. Jangan jadikan jarak sebagai penghambat komunikasi. Tak mengapa jarang bertemu asalkan komunikasi tetap berjalan dengan baik. Toh canggihnya teknologi telah memberikan kita banyak sekali pilihan. Baik melalui chatting, video call ataupun media sosial.
Jangan lupa, respon balik saat keluarga menghubungi jika kalian tidak berada di tempat. Jangan sayang pulsa, ya. Minimal SMS lah, untuk sekedar menanyakan ada apa. Mungkin saja ada yang penting, atau bisa jadi saudara ini malah mau mengirimkan oleh-oleh. Nah kalaupun tidak ada, paling tidak sikap ini menunjukkan bahwa kita menghormatinya dan memiliki etika, terlepas dari posisi kita dalam keluarga.
5. Atur prioritas
Dunia akan terasa indah jika seluruh anggota keluarga bisa bertemu fisik. Namun jika jarak terlalu jauh apa boleh buat. Mungkin kita tidak bisa sering-sering berkumpul saat ada arisan keluarga, perayaan tahun baru, ataupun hari raya. Namun usahakan agar dapat hadir ketika saudara sakit ataupun tertimpa musibah lainnya. Jadi jika Lad nd Gent tidak memiliki banyak waktu, untuk bercengkrama bersama, usahakan agar selalu ada saat mereka butuh bantuan. Baik secara fisik maupun materi.
Toh dasar dari segala hubungan adalah hati yang tulus, pengertian yang tinggi dan etika. Jadi jagalah sebisa mungkin agar hubungan tetap indah. Jalinlah komunikasi secara konsisten. Jadi saat ada perlu mereka akan membantu dengan senang hati. Jangan sampai ya, kehadiran Lad nd Gent malah membuat mereka paranoid, karena menghubungi ataupun berkunjung kerumahnya ketika ada perlu saja.
Bagaimana, siap menargetkan indahnya silaturahmi sebagai resolusi terbaik?






Hai mbak Indah...tulisannya keren banget...hmmm jadi ingat semua saudaraku....semoga mereka semua selalu sehat...dan aku bahagia banget.....akhirnya aku bersaudara juga dengan mbak Indah....rasanya dekat di hati biarpun belum pernah bertemu....semoga persaudaraan kita abadi selamanya.....
BalasHapusAamiin ya robbal alamiin, untuk doa yang indah dan pengharapan yang sama, semoga diijabah ya mba :)
Hapus