Kenapa ya, dia bisa semaju itu? Sedangkan saya tidak!
Kenapa ya, saya enggak bisa secerdas dia?
Kenapa ya, kenapa ya dan kenapa ya!
Mungkin ada pertanyaan-pertanyaan menggelitik yang memenuhi rongga otakmu di saat melihat pencapaian orang lain. KIra-kira benar, tidak? Lalu setelah itu rasa minder, rendah diri, kesal dan semangat yang mengendur, ikut meramaikan harimu yang tiba-tiba saja terasa begitu suram. Tidak masalah, ini bukan kendala besar jika ditangani dengan baik. Saya pun demikian. Kurang lebih sama, kok. Bisa dikatakan sering galau juga. Tapi bukan pada pencapaian orang lain, ya! Melainkan pada keinginan baru yang muncul secara tiba-tiba, padahal sebelumnya saya sudah menekuni satu bidang. Nah disinilah permasalahannya. Ternyata setelah dianalisis lebih jauh, saya mengalami Hyperbolic Discounting!
Jika diamati lagi, ternyata dua kejadian di atas serupa, ya. Sama-sama gagal fokus dan problem seperti ini sebenarnya sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Bahkan Aristoteles dan Socrates menyebutnya dengan nama Akrasia.
Akrasia bisa didefinisikan sebagai sikap seseorang yang kerap melakukan kegiatan lain, padahal seharusnya ia fokus pada aktivitas sebelumnya.
Dan Akrasia ini sangat berkaitan erat dengan Hyperbolic Discounting, yaitu kondisi di mana pikiran manusia cenderung menilai kesenangan saat ini jauh lebih penting, dibanding dengan harapan kebahagiaan yang akan diperolehnya di masa depan.
Contoh sederhananya bisa dilihat saat seseorang ingin memiliki badan yang langsing dan kulit terawat, tapi tidak mau melakukan apa pun dan cenderung bermalas-malasan. Artinya, kesenangan saat ini jauh lebih penting baginya, dibanding keberhasilan masa depan, yang memang harus dibayar dengan investasi waktu, tenaga, pikiran, bahkan bisa jadi, uang pun tercakup di dalamnya.
Menanggapi hal ini, maka bisa dikatakan bahwa satu-satunya solusi adalah tekad! Ya, berawal dari tekad semua akan terorganisir dengan baik. Sebab tekad membuat otak kita berdaya. Secara tidak sadar pikiran akan mencari solusi dan strategi, sehingga menciptakan langkah baru yang berujung pada realitas positif di kehidupan kita.
Berikut hal yang saya lakukan untuk mengatasi gagal fokus karena terlalu banyak keinginan diri!
1. Mencari penyebabnya
Saya mengandalkan kertas dan pulpen dalam hal ini. Meski gadget terkesan lebih simpel untuk menulis, namun goresan tangan membuat saya lebih bebas dalam mengekspresikan tulisan. Bahkan secara tidak sadar, akar permasalahan dan keinginan terpendam bisa keluar begitu saja. Tehnik ini lekat dengan sebutan "ekspresif writing." Jika ingin tahu lebih jauh mengenai metode ini, kamu bisa mencari informasi lebih lanjut di mesin pencarian Google. Selain metode tersebut, saya pun senang menjalin hubungan yang baik dengan diri sendiri. Saya kerap berbicara dan bertanya pada diri untuk langkah selanjutnya. Cara ini pun efektif bagi saya, karena, tiba-tiba saja jawaban itu bisa muncul di benak secara ajaib.
2. Relaksasi
Rilaksasi enggak harus ke salon, jalan-jalan, belanja ataupun wisata kuliner, kok. Karena biasanya, aktivitas fisik hanya memberi kesenangan sesaat. Setelah kegiatan selesai, kita pun kembali gagal fokus. Tidak mengerti prioritas dan kembali ke kebiasaan lama. Entah mengapa, saya lebih memilih untuk mengendurkan syaraf-syaraf yang tegang. Saya menjeda diri, tenggelam dalam hening, menjauhi gadget dan menikmati instrumen rileksasi dalam frekuensi tertentu. Jika sudah begini, biasanya otak saya rileks banget. Pikiran lebih jernih sehingga mampu melihat akar permasalahan yang sebenarnya.
3. Menentukan tujuan
Setelah otak saya rileks, maka langkah yang paling tepat adalah berpikir ulang dengan batasan waktu. Saya memilih deadline sebagai triger pergerakan baru, lalu menentukan prioritas dan komitmen dengan ikrar diri. Pada masa perenungan tersebut, saya benar-benar mengobservasi secara mendalam untuk menemukan hal terpenting dalam hidup ini, baik jangka panjang maupun kebutuhan saat ini.
Dengan menjawab pertanyaan di atas, maka sudah bisa dipastikan bahwa pilihan terbaik sudah berada di genggaman. Maka to do list adalah pilihan berikutnya.
4. Saatnya fokus
Saya melatih konsistensi sebisa mungkin dengan tetap berada dalam koridor atau garis keras dari apa yang sudah saya tetapkan sebelumnya. Jika pikiran saya agak melenceng, maka sesegera mungkin saya kembali ke to do list dan bertanggung jawab penuh pada pilihan sebelumnya.
Dengan meyakini bahwa segala hal berproses dan hasil tidak akan pernah menghianati usaha, sebisa mungkin saya berdiri pada tempatnya. Bukankah selamanya kita akan menjadi pemula jika terus mengawali hal baru? Tentu hal ini bukan tindakan bijak. Kita tidak menghormati diri kalau begini caranya.
Oh ya, by the way statemen di atas tidak mengindikasikan bahwa mencoba hal baru itu salah, ya. Kita tetap perlu mencoba hal baru, lho. Sebab, kita tidak akan pernah tahu bagaimana hasilnya atau sampai di batas mana kemampuan kita, jika tidak mau mencoba hal baru. Dengan kata lain, hal baru memberi pengalaman dan ini bagus untuk bekal kehidupan ke depannya. Hanya saja, hal baru yang dimaksud perlu disesuaikan lagi dengan kebutuhan dan waktu yang tepat.
Overall, pada akhirnya saya memilih no overthinking, agar fokus saya tidak terkontaminasi dengan hal-hal yang tidak perlu. Lalu bagaimana jika Hyperbolic Discounting ini timbul karena pencapaian orang lain?
Mudah saja sih. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing, kan? Ini adalah rahasia umum sebenarnya. Tapi dengan menyadari hal ini maka kita akan memahami bahwa jalan hidup setiap orang itu berbeda. Pun demikian dengan pengalaman, latar belakang pendidikan, akses sosial dan tujuan hidup. Semuanya berbeda.
So, bukankah akan jauh lebih baik jika kita menyadari sedang berada di mana dan ingin ada di mana kedepannya? Fokuslah pada keinginan diri dan abaikan pencapaian orang lain. Toh pada dasarnya tidak ada yang sempurna di dunia ini. Bisa jadi sebenarnya ada banyak orang yang ingin sepertimu. Di atas segalanya, "jangan bandingkan hidupmu dengan orang lain. Tapi bandingkanlah kamu yang kemarin dengan kamu di saat ini. kamu yang dulu dengan kamu yang sekarang. kamu di detik ini adalah orang yang keren, unik dan berharga. Yang sudah berproses sedemikian jauh hingga menjadi pribadi tak tertandingi" Kamu hebat!
Oke deh, saya rasa sampai di sini dulu obrolan ringan tentang gagal fokusnya, ya. saya mau masak. Salam bahagia, tetap bersinar dan jaga kesehatan mental kita. Cintai diri sebelum mencintai orang lain. Buat dirimu penuh dengan rasa puas yang mengubun-ubun dan bagikan ke orang lain dengan takaran yang sehat. see you






Hai mbak Venna. Seneng banget baca tulisan mbak Venna. Bener-bener ilmiah dan menginspirasi. Semangat.
BalasHapushai mba annisa prasetyo, makasih ya sudah berkenan hadir. komentarnya menyejukkan sekali. semoga selalu damai :)
HapusBetul mbak...mood naik turun jadinya hehee.. Thanks ulasannya��
BalasHapusTerima kasih ya sudah berkunjung, Mba indira :)
HapusBerarti yang seperti ini bisa dikatakan orang yang tidak konsisten ya mbak? Apa kalau punya tugas yang banyak (multitasking) itu juga menjadi penyebab seperti ini?
BalasHapusternyata aristoteles mungkin pernah gagal fokus jg kli y jd dia buat istilah akrasia.. hahahaha...
BalasHapus